Kamis, 03 Februari 2011

KEBIJAKAN PENYEDIAAN BENIH KELAPA SAWIT TAHUN 2010

Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya untuk tahun 2010 Direktur Jenderal Perkebunan pada tanggal 12 Februari 2010 telah menetapkan beberapa kebijakan mengenai penyediaan benih kelapa sawit di dalam negeri.  Kebijakan penyediaan benih kelapa sawit ini perlu diambil karena erat kaitannya dengan keberlangsungan industri kelapa sawit yang berdaya saing dan berkelanjutan, eksistensi produsen benih yang ada di dalam negeri, menjaga keberlangsungan investasi dan aturan perdagangan internasional dan lain-lain.



Kebijakan penyediaan benih kelapa sawit tahun 2010 antara lain adalah sbb : 
1)       Bahwa untuk menjaga eksistensi industri kelapa sawit nasional perlu didukung secara maksimal oleh eksistensi industri perbenihan kelapa sawit di dalam negeri.  Untuk itu produsen benih kelapa sawit di dalam negeri perlu meningkatkan jumlah dan mutu benih sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan selera konsumen yang senantiasa berubah secara dinamis.  

2)       Untuk tahun 2010, rencana produksi benih kelapa sawit di dalam negeri ditetapkan sebesar 153 juta kecambah dari 219 juta potensi produksi seperti dirinci pada tabel 1. di bawah ini: 
Tabel 1.      Potensi dan Rencana Produksi Benih Kelapa Sawit di Dalam Negeri Tahun 2010 
 No 
 Produsen 
Potensi Produksi(Butir)
Rencana Produksi(Butir)
1.PT. PPKS
50,000,000
35,000,000
2.
PT. Socfin Indonesia
40,000,000
32,000,000
3.
PT. London Sumatera
25,000,000
           20,000,000
4.
PT. Dami Mas Sejahtera
30,000,000
20,000,000
5.
PT. Tunggal Yunus Estate
           20,000,000
15,000,000
6.
PT. Bina Sawit Makmur
30,000,000
10,000,000
7.
PT . Tania Selatan
4,000,000
3,000,000
8.
PT. Bakti Tani Nusantara
20,000,000
18,000,000
 Jumlah
219,000,000
153,000,000

3)     Pemasukan benih kelapa sawit dari luar negeri dilakukan secara selektif dengan jumlah maksimal sebanyak 10 % dari rencana produksi dan demikian juga pengeluaran benih dimungkinkan maksimal 10 % dari rencana produksi. 

4)     Untuk keperluan masyarakat/petani/pekebun, PPKS memberlakukan harga 10 % lebih rendah dari harga standar dan bagi produsen benih kelapa sawit lainnya diharapkan juga memberlakukan harga yang sama.  Harga benih kelapa sawit untuk tahun 2010 adalah seperti pada tabel 2 berikut : 
Tabel 2. Harga Benih Kelapa Sawit Untuk Tahun 2010 
No.
 Produsen Benih
Harga/Kecambah (Rp)
 Varietas
 1.PT. PPKS
 6.000,- s.d. 7.000,- (tergantung varietasnya)
  1. Sungai Pancur 1
  2. Sungai Pancur 2
  3. AVROS
  4. Lame
  5. Yangambi
  6. Langkat
  7. Simalungun
  8. PPKS 540
  9. PPKS 718
 2.PT. Socfin Indonesia
 9.500 
  1. Socfindo L
  2. Socfindo Y
 3.PT. London Sumatera
 $ 1,2
  1. Bah Lias 1
  2. Bah Lias 2
  3. Bah Lias 3
  4. Bah Lias 4
 4.PT. Dami Mas       Sejahtera
 9.000,-
  1. Dami Mas 1
  2. Dami Mas 2
  3. Dami Mas 3
  4. Dami Mas 4
  5. Dami Mas 5
 5.PT. Tunggal Yunus Estate
                               8.000,-
  1. Topaz 1
  2. Topaz 2
  3. Topaz 3
  4.  Topaz 4
 6.
PT. Bina Sawit Makmur  
 9.000,-
  1. Sriwijaya 1
  2. Sriwijaya 2
  3. Sriwijaya 3
  4. Sriwijaya 4
  5. Sriwijaya 5
  6. Sriwijaya 6
7.PT . Tania Selatan
 9.000,-  
  1.  TS 1
  2.  TS 2
  3.  TS 3
8.PT. Bakti Tani Nusantara
6.000,- (untuk masyarakat/petani perkebunan)7.000,- (untuk perusahaan besar)
  1.  TN 1

5)      Dalam rangka kemudahan akses petani perkebunan untuk mendapatkan benih kelapa sawit sesuai standar dan legal, maka produsen benih diminta untuk mengembangkan dan memperluas waralaba benih pada wilayah pengembangan kelapa sawit dan realisasi dari waralaba ini akan menjadi pertimbangan untuk penetapan rencana produksi pada tahun-tahun selanjutnya. 

6)      Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat/petani/pekebun yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, produsen benih diwajibkan untuk mengalokasikan benih kelapa sawit sebesar 30 % dari rencana produksi tahun 2010, baik secara langsung maupun melalui waralaba.  Realisasi dari penyaluran ini menjadi pertimbangan untuk penetapan rencana produksi tahun selanjutnya.

Sumber : http://ditjenbun.deptan.go.id/perbenpro/index.php?option=com_content&view=article&id=132:kebijakan-penyediaan-benih-kelapa-sawit-tahun-2010&catid=8:inventaris-berita&Itemid=62 

BIBIT UNGGUL KELAPA SAWIT


DXP Yangambi
Potensi produksi TBS : 39 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 25 – 28 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,5 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 5,8 – 7,3 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 26% Produksi minyak inti : 0,62 ton/ha/th Kerapatan tanam : 130 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,60 – 0,75 m/th.
DXP Simalungun
Potensi produksi TBS : 33 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 28,4 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,9 ton/ha/th Potensi CPO rata-rata : 8,7 ton/ha/th Rendemen minyak : 26,5% Produksi minyak inti : 0,51 ton/ha/th Kerapatan tanam : 130 – 135 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,75 – 0,80 m/th.
DXP Bah Jambi
Potensi produksi TBS : 32 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 22 – 24 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,4 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 5,7 – 6,2 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 26% Produksi minyak inti : 0,62 ton/ha/th Kerapatan tanam : 130 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,65 – 0,85 m/t
DXP Dolok Sinumbah
Potensi produksi TBS : 31 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 24 – 27 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,7 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 6,0 – 6,75 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 25% Produksi minyak inti : 0,56 ton/ha/th Kerapatan tanam : 130 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,65 – 0,85 m/th.
DXP Lame
Potensi produksi TBS : 36 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 26 – 27 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,9 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 5,9 – 7,0 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 26% Produksi minyak inti : 0,60 ton/ha/th Kerapatan tanam : 143 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,55 – 0,70 m/th.
DXP Marihat
Potensi produksi TBS : 31 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 24 – 25 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,9 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 6,0 – 6,3 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 25% Produksi minyak inti : 0,54 ton/ha/th Kerapatan tanam : 143 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,6 – 0,7 m/th.
DXP AVROS
Potensi produksi TBS : 30 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 24 – 27 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,8 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 5,5 – 7,0 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 26% Produksi minyak inti : 0,54 ton/ha/th Kerapatan tanam : 130 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,6 – 0,8 m/th.
DXP SP 2
Potensi produksi TBS : 30 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 24 – 27 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,5 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 6,2 – 6,8 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 25% Produksi minyak inti : 0,51 ton/ha/th Kerapatan tanam : 143 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,65 – 0,85 m/th.
DXP SP 1
Potensi produksi TBS : 32 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 25 – 28 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,6 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 6,5 – 7,3 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 26% Produksi minyak inti : 0,49 ton/ha/th Kerapatan tanam : 143 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,40 – 0,55 m/th. DXP Yangambi Potensi produksi TBS : 39 ton/ha/th Produksi TBS rata-rata : 25 – 28 ton/ha/th Potensi hasil (CPO) : 7,5 ton/ha/th Produksi CPO rata-rata : 5,8 – 7,3 ton/ha/th Rendemen minyak : 23 – 26% Produksi minyak inti : 0,62 ton/ha/th Kerapatan tanam : 130 pohon/ha Pertumbuhan meninggi : 0,60 – 0,75 m/th.


sumber; Lembaga Riset Perkebunan Indonesia

PENGELOLAAN PEMBIBITAN KELAPA SAWIT

 

1. Persiapan Pembibitan  Semprot lahan dengan herbisida glyphosate dosis 1,5 -2 liter / ha atau dicampur dengan Diamine 0,5 l/ha sebelum pengiriman tanah ke bibitan.

2 Tanah
Ambil dari area non-kelapa sawit, Top soil diambil dari permukaan tanah yang berstruktur baik sedalam 0-20 cm yang bebas dari hama dan penyakit (misal bukan dari areal Ganoderma). Tanah harus yang subur ditandai dengan adanya ground cover. pertumbuhan penutup tanah yg bagus. Tanah harus mempunyai drainase yg baik (misalnya tanah bebas dari genangan air setelah penyiraman). Jika hanya tanah liat yang tersedia, campur dengan 20% pasir kasar.
 
3 Pembibitan satu tahap.
Campurkan 1 ton tanah ayakan dengan 3 kg phospate (atau 50 kg POME kering) untuk large polybags (i.e. 60g RP or 1 kg POME per pengisian 50 polibag besar (setara 60g RP atau 1 big polybag) kg POME per polibag besar)
Isi polybag dengan ± 20 kg tanah sepenuhnya. Susun barisan yang terdiri dari 4 polibag per baris dengan jarak 10m diantara barisan. Siram selama 1 minggu dan jika perlu tanah ditambah lagi sampai berkisar 2 cm dibawah permukaan polibag.
 
4. Pembibitan dua tahap
Isi polibag kecil dengan tanah ayakan. Tambahkan 20g rock phosphate dan campurkan secara merata. Polibag disusun rapat 10 baris dalam petak panjang 10m x 0.8m berisi 1200 polibag. Jarak antara petak bibit adalah 0.8m.
Dianjurkan untuk menggunakan papan kayu ukuran lebar 20-cm di sekeliling bibit untuk mengurangi seleksi pada bibit yang terletak dipinggir.
 
5. Penanaman benih
Plumula (ujung yang lebih halus/licin) harus diatas dan ditutup dengan tanah 1 cm. Jangan keluarkan benih dari kotak sebelum siap tanam dan letakkan kotak ditempat teduh atau diruangan ber-AC. Penanaman berdasarkan nomor “bref” (Nomor Referensi Penyerbukan)
 
6. Perhitungan benih
Sebelum dan sesudah penanaman, hal-hal tersebut di bawah harus dicatat :
- jumlah benih yang diterima
- jumlah benih yang rusak
- jumlah benih yang terinfeksi jamur
Benih yang terinfeksi jamur, diberi pelakuan dengan dithane 0.2% selama 2 menit dan ditanam ditempat terpisah. Benih-benih ini dicatat ketika ditanan.
Catat juga bibit-bibit yang terkena:
- Culling I pada umur 3 bulan,
- Culling II pada umur 6 bulan Culling III pada umur 9 bulan setelah tanam.
 
7. Naungan/Shade
Secara umum tidak perlu. Namun demikian, bila temperatur sangat tinggi dan kelembaban rendah, letakkan “lalang/jerami kering” dipermukaan polibag dan dibuang setelah 2 minggu.
 
8. Mulsa
Jika tersedia, tambahkan potongan cangkang sawit atau jerami/lalang kering di polibag untuk mengurangi penguapan, menghalangi tumbuhnya gulma dan mencegah erosi tanah saat penyiraman.
 
9. Penyiraman
Pada pagi dan sore hari, siram kurang lebih 1 liter air untuk polibag besar (atau 150ml untuk polibag kecil), jika curah hujan hari sebelumnya kurang dari 8 mm.
 
10. Jadwal pemupukkan
Ikuti pemupukan kelapa sawit.
 
11. Penyiangan gulma
Setelah penanaman, penyiangan gulma diluar dan didalam polibag dilakukan secara manual.
 
12. Seleksi/Pemusnahan
- Tipe kelapa sawit yang akan di culling terlampir
- Setelah culing pertama (3 bulan) pada bibitan satu tahap, dilakukan penjarangan polibag menjadi 90cm x 90cm segitiga (78cm diantara barisan).
- Untuk bibitan 2 tahap, bibit dari polibag kecil dipindahkan ke polibag besar dan disusun 90cm x 90cm berbentuk segitiga.
 
13. Collante
Jika persentase bibit dengan gejala collante tinggi hal ini biasanya disebabkan oleh penyiraman yang kurang. Karena gejala collante bukan geajala abnormal yang bersifat genetic, bibit collante tersebut harus dipelihara dan penyiraman ditambah.

14. Hama dan Penyakit
Jika ada serangan hama atau penyakit, lakukan tindakan sesuai petunjuk Hama dan Penyakit

Sumber : http://agrodanbisnis.blogspot.com

HAMA DALAM PEMBIBITAN KELAPA SAWIT


 
Dalam Usaha Pembibitan Kelapa Sawit sering dijumpai hama yang menyerang di tahap pembibitan, antara lain :

1. Adoretus compressus
Bagian Terserang
daun, Stadia yang merugikan : dewasa. Kumbang Adoretus berwarna coklat dengan bercak­bercak putih. Panjang tubuh mencapai 1,5 cm dan mempunyai bulu-bulu halus. Telur diletakkan di dalam tanah. larva memakan akar­akar tumbuhan liar di tanah lapisan atas. Pada siang hari kumbang bersembunyi, masuk beberapa cm ke dalam tanah. Serangan kebanyakan terjadi pada awal malam hari.
KERUSAKAN
Kumbang Adoretus dewasa menyerang daun, memakan sebagian kecil daging daun bagian tengah.
PENGENDALIAN
Serangga ini adalah penyerang di malam hari sehingga pengendalian yang efektif dapat dicapai jika pestisida diaplikasikan pada malam hari. Penyemprotan daun dengan deltamethrin (3-5 ml/10 l air), fipronil (1-2 ml/l air), cyhalothrin (4-5 ml/10 l air) atau carbosulfan (1-2 ml/l air).
 
2. Apogonia expeditionis
Bagian Terserang :
Daun Stadia yang merugikan : dewasa Kumbang Apogonia berukuran 1,2 cm, berwa rna coklat polos dan tak berbulu, warna bagian dada lebih gelap dibandingkan dengan warna sayap. Pada siang hari kumbang bersembunyi, masuk beberapa cm ke dalam tanah. Serangan kebanyakan terjadi pada awal malam hari.
KERUSAKAN
Kumbang mulai menyerang dari bagian pinggir dan membuat robekan besar pada pinggir helai daun.
PENGENDALIAN
Serangga ini adalah penyerang di malam hari sehingga pengendalian yang efektif dapat dicapai jika pestisida diaplikasikan pada malam hari. Penyemprotan daun dengan deltamethrin (3-5 ml/10 l air), fipronil (1-2 ml/l air), cyhalothrin (4-5 ml/10 l air) atau carbosulfan (1-2 ml/l air).
 
3. Hypomeces squamosus
Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : kumbang
KERUSAKAN
Hama ini menyerang banyak tanaman lain. Kumbang mulai menyerang dari bagian pinggir dan membuat robekan besar pada pinggir helai daun. Kumbang dengan mudah dapat dilihat memakan daun pada pembibitan.
PENGENDALIAN
Penyemprotan daun dengan deltamethrin (3-5 ml/10 l air), fipronil (1-2 ml/l air), cyhalothrin (4-5 ml/10 l air) atau carbosulfan (1-2 ml/l air).
 
4. Spodoptera litura Ulat tentara
Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : ulat Sayap belakang ngengat kebanyakan berwarna coklat tua dengan corak garis -garis halus putih kekuningan. Panjang ulat mencapai 40 mm, hijau tua bergaris -garis putih Telur diletakkan dalam kantung yang berisi beratus­ratus butir, yang ditutupi dengan bulu berwarna coklat.
KERUSAKAN
Hama ini menyerang banyak tanaman lain. Kadang­kadang meluas dan sering terlihat dalam pembibitan. Ulat merusak kulit ari daun dan jika dilihat lebih dekat gerombolan dari ulat biasanya dapat dilihat.
PENGENDALIAN
Pengutipan (hand-picking). Bacillus thuringiensis (BT) (seperti Dipel, Thuricide)10 gram/20 l air + bahan pelekat.
 
5. Tetranychus piercei Tungau Merah
Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : ulat dan dewasa Serangga dewasa berwarna merah dan berukuran 0,3 mm sampai 0,4 mm. Memiliki 4 pasang kaki, sedangkan larva hanya memiliki 3 pasang.
KERUSAKAN
Serangga ini menghisap makanan dari pohon, biasanya daerah yang diserang kehilangan warna dan terlihat berbercak-bercak. Pada penyerangan yang parah seluruh pohon akan kehilangan warna dan pohon pada pembibitan depat terganggu per tumbuhanya. Pada umumnya serangan dimulai pada musim kemarau yang parah. Populasi sangat rendah ketika musim penghujan.
PENGENDALIAN
Penyemprotan dengan sulfur telah memberikan basil baik, dengan dosis 20 g/l pada pembibitan + 0.8ml sticker. Dapat juga digunakan amitraz (2 ml/l air) atau propargite (2 ml/l air).
 
6. Aphids/kepik Mealy bugs/kutu bulu putih
Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : ulat dan dewasa
KERUSAKAN
Aphids/kepik dan mealy bugs/kutu bulu putih biasanya tidak menjadi masalah, namun demikian dapat membuat daun berubah bentuk (distorsi) jika muncul dalam jumlah banyak. Aphids/kepik dapat ditemukan di bagian tengah (axis) daun dan dilihat iebih dekat akan nampak. Keberadaan semut sering merupakan indikasi adanya aphids. Mealy bugs/kutu bulu putih berukuran lebih besar dari aphid/kepik dan mempunyai lapisan seperti bulu putih/lilin. Gejala serangga seperti pada aphid.
PENGENDALIAN
Dimethoate 40% (20 ml/20 liter air + surfaktan. Semprotkan sampai basah terutama pada permukaan bawah daun.

7. Valanga nigricornis
Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : dewasa dan nimfa Jenis betina lebih besar daripada jenis jantan 55-85 mm. Ada banyak keluarga sejenis hama ini yang be­raneka warnanya, dari hijau kekuningan sampai abu-abu kecoklatan.
KERUSAKAN
Serangan hama ini sangat khas, yaitu hama memotong putus daun dalam potongan yang besar, kadang-kadang ditemukan potongan pada pertengahan anak daun. Belalang dengan mudah dapat dilihat memakan daun pada pembibitan.
PENGENDALIAN
Penyemprotan dengan tepung Metarhizium yang berasal dari belalang terinfeksi sebanyak 2 g per liter air memberikan hasil yang baik Insektisida kimia seperti fipronil (1-2 ml/l air) dan carbosulfan (1-2 ml/l air) merupakan insektisida yang efektif.

 Sumber : http://agrodanbisnis.blogspot.com

HAMA DAN PENYAKIT KELAPA SAWIT

Pengendalian hama dan penyakit tanaman 

A. Penyakit
1. Penyakit Akar (Blast disease)
Gejala serangan :
- Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
Penyebab :
Jamur (Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.)
Cara pengendalian :
- Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
- Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman

2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)
Gejala serangan:
- Daun berwarna hijau pucat
- Jamur yang terbentuk sedikit
- Daun tua menjadi layu dan patah
- Dari tempat yang terinfeksi keluar getah
Penyebab :
Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum.
Cara pengendalian  dan pencegahan :
- Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
- Melakukan pembumbunan tanaman

3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)
Gejala serangan:
- Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
Penyebab :
Jamur Fomex noxius.
Cara pengendalian :
- Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang terserang
- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka  

4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang  (Dry basal rot)
Gejala serangan :
Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.
Penyebab :
Jamur Ceratocytis paradoxa.
Cara pengendalian :
Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.
 
5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)
Gejala serangan:
Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.
Penyebab :
Belum diketahui dengan pasti.
Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang

6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)
Gejala serangan :
- Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
Penyebab :
Bakteri Erwinia.
Cara pengendalian :
Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.

7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)
Gejala serangan:
Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna cokelat.
Penyebab :
Jamur Fusarium oxysporum
Cara pengendalian :
Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda.  Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.

8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)
Gejala serangan :  
- Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang
Penyebab :  
Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum.
Cara pengendalian :
- Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang
- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.

9. Penyakit Tajuk (Crown disease)
Gejala serangan :  
Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.
Penyebab:
Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Cara pengendalian :
Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.

10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)
Gejala serangan:
Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun.
Penyebab :
Jamur Marasmius palmivorus.
Cara pengendalian :
Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim hujan.
Pengaplikasian difolatan 0,2 %. 


B. Hama
1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Gejala serangan :
- Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak
- Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.
Cara pengendalian:
- Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
- Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit

2. Tungau (Oligonychus sp.)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz).
Cara pengendalian :
Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.

3. Pimelephila ghesquierei
Gejala serangan :  
Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah.
Cara pengendalian :    
- Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang
- Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.

4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya  daun hanya tersisa tulang daunnya saja.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 g/l.

5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula)
Gejala serangan:
- Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
- Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha. 

6.  Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus marmoratus
Gejala serangan: 
Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.
Cara pengendalian :  
Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya.

7. Kumbang Oryctes rhinoceros
Gejala serangan :
Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.
Cara pengendalian :
Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes. 
Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.

8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)
Gejala serangan:
Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350 g/l.

9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)           
Gejala serangan: 
- Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal
- Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
Cara pengendalian :
Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.

Sumber : http://politeknikcitrawidyaedukasi.wordpress.com/2008/04/21/hama-dan-penyakit-kelapa-sawit/

Rabu, 26 Januari 2011

JENIS PESTISIDA LAIN

Selain beberapa jenis pestisida diatas masih banyak jenis pestisida lain. Namun, karena kegunaannya jarang maka produsen pestisida pun belum banyak yang menjualnya. Sehingga dipasaran bisa dikatakan sulit ditemukan . pestisida tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pisisida, adalah bahan senyawa kimia beracun untuk mengendalikan ikan mujair yang menjadi hama di dalam tambak dan kolam.
  2. Algasida, merupakan pestisida pembunuh ganggang.
  3. Avisida, petisida pembunuh burung.
  4. Larvisida, pestisida pembunuh ulat.
  5. Pedukulusida, pestisida pembunuh kutu.
  6. Silvisida, pestisida pembunuh pohon hutan atau pembersih sisa-sisa pohon.
  7. Ovisida, pestisida perusak telur.
  8. Piscisida, pestisida pembunuh predator.
  9. Termisida, pestisida pembunuh rayap.
  10. Arborisida, pestisida pembunuh pohon, semak dan belukar.
  11. Predasida, pestisida pembunuh hama vertebrata.
Selain itu ada juga beberapa senyawa yang tergolong pestisida tetapi namanya tidak berakiran sida. Pestisida tersebut umumnya bersifat non letal atau tidak langsung membunuh. Berikut pestisida yang dimaksud dan pengaruhnya terhadap hama sasaran:
a. Antraktan : menarik serangga pada lokasi yang mendapat bperlakuan, misalnya metileugenol dan feromon.
b. Kemosterilan : memandulkan serangga atau vertebrata sehingga pekembangbiakannya bisa ditekan, misalnya afolate dan folex.
c. Desinfektan : bahan pembunuh mikroorganisme, missal sodium bisulfat.
d. Desikan : zat pengering bagian tanaman, misalnya daun dan batang, juga pengering serangga misalnya asam arsenic.
e. Repellen : penolak hama atau pengusir hama dari obyek yang memperoleh perlakuan, misalnya kamper dan avitrol.
f. sterilan tanah : penetrasi tanah dari mikroorganisme dan organisma pengganggu lain.
g. Inhibitor : penghambat, misalnya pospon.
h. stimulant : perangsang misalnya atonik dan ethrel.
i. Pengawet kayu, misalnya penta kloro phrnol (PKP)
j. Anti makan 9anti-feedant) : menghalangi makan hama namun hama tetap tinggal pada tanaman akhirnya mati kelaparan.
k. Penggugur daun (defoliant) : menghilangkan pertumnuhan bagian tnaman yang tidak dikehendaki.

PESTISIDA BERPERAN GANDA
Selain untuk satu golongan OPT seperti di atas, kini di pasarn juga tersedia jenis pestisida yang berperan untuk membasmi 2 atau 3 OPT. berikut jenis pestisida yang dimaksud sesuai yang terdaftar di komisi pestisida:
  1. Akarisida, fungisida yang berguna untuk mengendalikan penyakit jamur dan tungau.
  2. Akarisida insektisida.
  3. Arbsida, herbisida.
  4. Fungusuda, insektisida da nematisida.
  5. Fungisida, ZPT
  6. Fungisida, nematisida.
  7. Insectisida, fungisida untuk pengawet kayu.  Sumber : www.pupukcair.co.cc

HERBISIDA

Herbisida adalah bahan senyawa beracun yang dapat dimanfaatkan untuk membunuh tumbuhan pengganggu yang disebut gulma.

Kehadiran gulma dalam lahan pertanian sangat tidak diharapkan karena akan menyaingi tanaman yang ditanam dalam memperolah unsure hara, air dan matahari. Akibat dari serangan gulma dapat menurunkan hasil panen yang cukup besar.
Pada pertanaman padi di indonesia hasil penelitian mnunjukkan bahwa gulma mampu menurunkan bobot gabah. Besarnya penurunan tergantung jenis gulmanya. Marselia crenata menurunkan 19% bobot gabah, sedangkan monochroria dan fimbristilis menurunkan sampai 54% bobot gabah.
Berdasarkan respon terhadap herbisida dan morfologinya, gulma digolongkan menjadi empat:
  1. gulma rerumputan (grasses weeds)
cirri gulma ini berdaun pita, perakaran serabut, batang hulat, pipih, berlubang, atau massif. Umumnya monokotil dari keluarga poaceae. Contohnya alang-alang, paitan, dan kawatan.
  1. Gulma berdaun lebar (broad leaves)
Gulma ini merupakan tumbuhan dikotil dan paku-poakuan. Kisalnya ceplukan, wedusan, dan sembung rambat.
  1. Gulma golongan teki (sedges)
Gulma golongan inibersal dari keluarga cyperaceae, tergolong monokotil, perakaran serabut, berdaun pita, batang bulat, segitiga, pipih, dan massif. Daun tidak mempunyai lidah daun dan titik tumbuhnya tersenbunyi. Misalnya teki dan udelan (cyperus kyllingia).
  1. Gulma pakisan ( fern) ialah gulma yang berasal dari keluarga pakisan. Misalnya pakis kadal ( Dryopteris aridus) dan pakis kinca (neprolepis biserata)
Aplikasi herbisida biasanya ditentukan oleh stadia pertumbuhan tanaman utama dan gulma. Untuk itu ada beberapa macam herbisida jika dilihat dari waktu aplikasinya.
  1. herbisida pratanam (preplant) diaplikasikan pada saat tanaman belum ditanam tetapi tanah sudah dioleh.
  2. Herbisida prapengolahan tanah diaplikasikan pada vegetasi secara total agar mudah dalam pembersihan lahan.
  3. Herbisida pratumbuh (pre emergence) diaplikasikan setelah benih ditanam tetapi belum berkecambah. Gulma pun belum tumbuh.
  4. Herbisida pratumbuh ( post emegence) di aplikasikan pada saat gulma dan tanaman sudah lewat stadia perkecambahan. Jadi herbisida ini bisa diaplikasikan saat tanaman masih muda maupun sudah tua.
Ditinjau dari cara kerjanya, herbisida dibedakan atas herbisida kontak dan sistemik.
a. Herbisida kontak ad\kan mematikan jaringan gulma yang terkana. Herbisida ini diaplikasikan dengan penyemprotan dan sangat sesuai untuk mengendalikan gulma setahun atau gulma semusim. Misalnya ceplukan (Physalis angulata L), wedusan atau babadotan (Angeratum conyzoides L.) dan bayam duri (amaratus spinosa L.). gulma ini akan mati scara keseluruhan bila kontan dengan herbisida ini. Namun, bial diaplikasikan pada gulma tahunan yang mati hanya bagian atasnya. Jadi hanya seperti dibabat. Sedangkan akarnya tetap hidup.
b. Herbisida sistemik diabsorbsi oleh akar atau daun masuk ke dalam jaringan pembuluh kemudian diedarkan ke bagian lain sehingga gulma mengalami kematian total. Maka dari itu aplikasinya dapat dengan cara penyemprotan daun atau penyiraman ke akar tanaman. Gulma tahunan (perennial weed) misalnya alang-alang, teki, dan sembung darta dangat efektif dikendalikan dengan herbisida sistemik.
Pergerakan herbisida masuk kedalam tubuh tanaman dengan dua cara kerja, yaitu selektif dan nonselektif.
  1. Herbisaida selektif walaupun diaplikasikan pada berbagai tumbuhan tetapi hanya akan mematikan gulma dan relative tidak mengganggu tanaman yang dibudidayakan.
  2. Herbisida nolnselektif ialah herbisida yang diberikan lewat tanah atau daun yang dapat mematiokan hamper semua jenis tumbuhan. Sumber diambil dari : www.pupukcair.co.cc

MOLUSKISIDA

Moluskisida adalah pestisida untuk membunuh moluska, yaitu siput telanjang, siput setengah telanjang , sumpil, bekicot, serta trisipan yang banyak terdapat ditambak.

Bekicot dan siput, binatang yang dapat mengeluarkan lender ini mempunyai kebiasaaan hidup bersembunyai di tempat teduh pada siang hari. Pada malam hari moluska akan mencari makanan tanaman yang sudah membusuk ataupun yang masih hidup. Berbagai jenis tanaman diserangnya , merusak persemaiaan dan tanaman yang baru tumbuh. Dalam perjalanannya meningglkan jejak berupa lender yang mengkilat. Karena sulit ditemukan disiang hari, maka pengendaliannya biasanya dengan moluskisida yang berupa umpan beracun.

Sumber : http://www.pupukcair.co.cc/2010/11/moluskisida.html 

RODENTISIDA

Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk mmatikan berbagai jenis binatang pengerat, misalnya tikus.

Tikus juga merupakan organisme penggangu yang bnayak merugikan manusia. Di bidang pertanian , tikus sering menyerang tanaman pangan ,hortikltura, dan tanaman perkebunan dalam waktu yang singkat dengan tingkat kerugian yang besar. Berbagai stadia umur tanaman diserangnya, mulai dari pembibitan, masa pertumbuhan sampai hasil panen yang tersimpan di guadang. Dipeternakan , tikus sering mengambil pakan ternak. Dan , bahkan tikus dapat menjadi sarana bagi beberapa pathogen yang dapat menimbulkan penyakit bagi manusia dan hewan piaraan.
Masalahnya tikus sangat terampil menghindar terhadap setiap tindakan pengendalian. Oleh karena itu rodentisida yang efektif biasanya dalam bentuk umpan beracun.

Sumber : http://www.pupukcair.co.cc/2010/11/rodentisida.html