Rabu, 26 Januari 2011

PEMANCANGAN DAN PENYIAPAN LUBANG TANAM KELAPA SAWIT

1. Kerapatan Tanam, Jarak Tanam Dan Pemancangan

1.1. Kerapatan Tanam
Kerapatan tanam mempunyai hubungan yang tak dapat dipisahkan dengan produksi yang akan diperoleh dari luas lahan per hektar, karena kerapatan tanam berhubungan dengan populasi tanaman dan keefisienan penggunaan cahaya, juga mempengaruhi persaingan antara tanaman dalam menggunakan air dan unsur hara. Pada umumnya, produksi tiap satuan luas yang tinggi tercapai dengan populasi tinggi, karena tercapainya penggunaan sinar matahari, air dan unsur hara secara maksimum di awal pertumbuhan. Akan tetapi pada akhirnya, penampilan masing-masing tanaman secara individu menurun karena persaingan untuk mendapatkan sinar matahari,air dan unsur hara. Kerapatan tanaman yang optimum hanya dapat ditentukan dengan mengetahui potensi produksi pada beberapa kerapatan tanaman.
 

1.2. Jarak Tanam
Pada umumnya perkebunan kelapa sawit menerapkan jarak tanam sama segala penjuru (equidistant plant spacing) yang umum dikenal dengan jarak tanam segitiga sama sisi (sistem mata lima). Sistem ini memberikan pemanfaatan yang lebih besar terhadap tanah untuk pengambilan unsur hara dan menyediakan ruang dan cahaya matahari bagi perkembangan pelepah daun. Sudah dibuktikan di Afrika bahwa penanaman sistem segitiga sama sisi menghasilkan lebih banyak dari pada penanaman dengan sistem kubus. Menggunakan sistem sama sisi membuat jarak antar barisan lebih pendek dari pada jarak antar tanaman. Jarak antar barisan dapat dihitung dengan rumus jarak antar tanaman x 0,866. Jarak tanam akan tergantung kepada kerapatan tanam yang diinginkan.
 

 1.3. Pemancangan
Untuk mencegah dan mengatasi timbulnya pengaruh kekurangan cahaya matahari serta mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur , maka pengaturan arah barisan tanam Kelapa Sawit sangat penting agar penggunaan cahaya matahari seefektif mungkin bagi setiap tanaman. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan pemancangan :
 

a. Keadaan Topografi Areal Tanam
Sebelum melaksanakan pemancangan terlebih dahulu mengetahui dan mengklasifikasikan keadaan topografi areal, dalam hal ini dapat diklasifikasikan ke dalam; areal rata sampai berombak (250). Pada umumnya untuk areal rata sampai berombak digunakan pemancangan sistem mata lima, sedangkan areal curam dan sangat curam digunakan sistem kontour.
 

b. Arah Barisan
Umumnya pada areal rata sampai berombak arah barisan pada tanaman Kelapa Sawit adalah Utara-Selatan. Hal ini berhubungan dengan arah penyinaran matahari Timur – Barat. Dengan membuat arah barisan Utara – Selatan maka jarak antar tanaman Timur – Barat lebih panjang daripada jarak antar tanaman dalam barisan, sehingga penyinaran matahari akan lebih lama bagi setiap tanaman karena saling menutupi antar daun tanaman lebih sedikit.
Untuk areal curam dan sangat curam arah barisan mengikuti arah kontour yang ada dan jarak antar tanaman adalah berbanding terbalik dengan jarak antar teras kontour. Untuk mendapatkan kerapatan tanam yang seragam pada semua tingkat kemiringan ( areal curam sampai sangat curam) dipergunakan metode pemancangan ”Violle” secara matematis dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
Contoh : Kerapatan Tanam = 143 Tanaman/ha
Jarak antar teras kontor = 8 meter
 

1.3.1. Persiapan Pemancangan 
• Pemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan areal.
 

• Pancangan tanaman dibuat dari bambu kecil panjang 1 meter; pancang kepala panjang 2,5 meter dicat bagian atasnya.
 

• Kawat diameter 2-3 mm sebanyak 2 utas masing-masing sepanjang 100 m. Tiap-tiap kawat diberi tanda sebagai berikut :
Kawat I : Diberi tanda tiap jarak tanam (9m); ujung ditambah 4,5 meter untuk mengukur jarak pancang hidup & mati.
Kawat II : Diberi tanda jarak antar barisan yaitu tiap 7,80 m
 

1.3.2. Pemancangan Pada Areal Datar
Dimulai dari luasan 1 ha terlebih dahulu (pancang hektaran) ukuran 100 x 100 m.
Contoh : Jarak tanam 9,0 m segitiga samasisi (9 x 7,80 m)
 

• Tentukan titik awal A berjarak 1,95 m (1/4 x 7,80 m) ; dan 2,25 m (1/4 x 9,0 m) dari pinggir arealdengan pancang kepala. Titik A sebagai awal pancang hidup.
• Kawat I; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. Pada tiap titik 9 m ditancapkan pancang kepala. Arah rentangan dibantu dengan menggunakan kompas.
 

• Kawat II; direntangkan T – B. Pada tiap jarak antar baris 7,80 m ditancapkan pancang kepala. Nomor ganjil pancang hidup, nomor genap pancang mati.
 

• Kemudian kawat I digeser sejauh 7,80 m sejajar dengan barisan ke arah T – B. Tancapkan pancang pada tanda 4,5 m (pancang mati) dari B1 kemudian tiap 9 meter.
 

• Kawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancang hidup 9 meter. Buat seterusnya sampai 10 barisan.
 

• Pada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua jurusan (mata lima)
 

• Bila pemancangan pada areal 1 ha ini sudah selesai maka dapat dilajutkan untuk memancang seluruh areal.
Tim pemancang minimal terdiri dari 5 orang dengan perincian sebagai berikut: – 1 orang tukang teropong
- 1 orang tukang pancang
- 2 orang penarik kawat
- 1 orang pembawa pancang
Kemampuan tim pemancang ± 3 ha / hari.
 

1.3.3. Pemancangan Pada Areal Curam dan Sangat Curam
Pemancangan pada areal curam dan sangat curam lebih sulit dari pada areal datar. Jarak antara kontour adalah merupakan proyeksi dari jarak antar barisan pada bukit tersebut. Sedang jarak dalam barisan dapat dihitung dengan metode Violle. Tahap pemancangan teras untuk areal curam dan sangat curam adalah sebagai berikut :
 

• Pilih lereng dengankemiringan rata-rata dari seluruh kemiringan bukit.
 

• Buatlah pancang kepala berwarna dengan sesuai jarak antar barisan yang diinginkan (mis: 8 m) ke arah bawah, pada kemiringan rata-rata mewakili seluruh areal yang ada secara horizontal.
 

• Gunakan tiga warna (merah , kuning dan biru) untuk pancang kepala, peletakkan pancang-pancang berwarna ini harus dilakukan berulang dan berurut. Ini akan membantu memastikan bahwa supir bulldozer tidak menembus kontour yang berbeda.
 

• Setelah selesai membuat pancang kepala, teras pertama diberi pancang berwarna merah pada kontour keliling bukit, dengan menggunakan abney level dengan penyangga berbentuk huruf T setinggi 1,5 m atau dumpy level. 

• Untuk membantu pengamatan (pengukuran) pancang tersebut diletakkan dengan interval 10 -15 m.
 

• Untuk pembuatan teras berikutnya, pergunakan kawat pengukur yang diberi etiket besi sesuai jarak yang diinginkan.
 

• Peletakkan pancang pada teras ke-2 harus dimulai dari pancang ke-2 (kuning) dan begitu seterusnya ke arah bawah.
 

• Salah satu ujung kawat dipegang pada pancang ke-2 pada teras pertama (pancang merah), sedang ujung yang satunya (ujung yang ada etiket besinya), dipegang oleh satu orang pada calon teras ke-2 dan pemegang abney levelnya mengukur dari titik pancang yang sebelahnya.
 

• Dengan pemancangan seperti ini tidak menimbulkan kesalahan yang berarti. Supir bulldozer yang berpengalaman dapat mengusahakan membentuk level yang benar, selama pembentukan teras dengan meratakan kesalahan, memotong lebih dalam atau mengurangi kedalaman dimana perlu.
 

 2. Pembuatan Teras/Tapak kuda
Pembatan teras secara mekanik biasanya dilakukan oleh bulldozer, dengan memotong teras selebar 3,5 – 4 m tetapi pada bukit yang paling curam dapat dipotong 3 m. Gambar potongan teras dapat dilihat pada gambar berikut:
Teras harus dipotong dengan kemiringan 150 – 200. Ini akan memudahkan pemadatan tanah dan berfungsi untuk menahan air dan menghentikan erosi akibat aliran air ke bawah.
Karena pada prakteknya hampir tidak mungkin membuat teras benar-benar rata ,maka perlu menghentikan aliran air ke bagian yang terendah . Ini dapat dilakukan dengan membuat stop bund dengan interval setiap dua pohon baik secara mekanik maupun manual. Dari dinding ke bibir teras, stop bund harus rata.
Jika pembuatan teras secara mekanik tidak memungkinkan, untuk alasan ekonomi, maka penanaman dibukit dapat dibuat tapak kuda (platform) secara manual berukuran 2,5 m x 2,5 m dengan kemiringan 150 – 200 ke arah dinding serta dipadatkan pada bagian tepinya.
 

PENYIAPAN LUBANG TANAM 
1. Penyiapan Lubang Tanam Kelapa Sawit
1.1. Membuat Lubang Tanam di Tanah Datar
Penggalian lubang tanam dilakukan 1 – 2 minggu sebelum waktu tanam. Buat lubang tanam tepat pada pancangan yang telah ditentukan atau pada sisi pancang secara seragam pada semua pancang. Pada saat membuat lubang, lapisan tanah atas (top soil) diletakkan pada satu sisi dan lapisan tanah bawah (sub soil) pada sisi lainnya. Pembuatan lubang tanam pada tanah datar dapat dilihat pada gambar berikut :
 

 1.2. Membuat Lubang Tanam di Teras
Lubang tanam dibuat 1 m dari dinding teras.
Lubang diisi dengan top soil yang berasal dari tanah diantara teras . Jika top soil tidak mencukupi, tanah galian dapat digunakan. Pembuatan lubang tanam pada teras dapat dilihat pada gambar berikut :
 

1.3. Membuat Lubang Tanam di Tanah Gambut
Menanam di tanah gambut akan menjumpai masalah yang disebabkan oleh drainase yang akan menimbulkan penyusutan tanah dan menyebabkan keluarnya akar sehingga tanaman doyong. Untuk mengkompensasi hal ini maka lubang tanam dibuat seperti gambar berikut:
 

2. Pemupukan Lubang Tanam
Pemupukan lubang tanam dapat dilakukan dengan pemberian Rock phospat saja atau kombinasi pupuk RP dengan TSP. Pelaksanaan pemupukan dapat dilakukan sebagai berikut :
 

• Mengunakan pupuk RP 200 g dan TSP 100 g dengan cara 100 g RP ditabur pada lubang sedangkan 100 g lagi dicampur dengan tanah penutup dan 100 g TSP dicampur dengan top soil
 

• Menggunakan pupuk RP 500 g dengan cara 250 g ditabur pada lubang sedangkan 250 g lagi dicampur dengan tanah penutup
Peralatan yang umum digunakan untuk membuat lubang tanam secara manual adalah cangkul sedangkan secara mekanis menggunakan Hole digger.Alat ukur dapat berupa kayu yang telah diberitanda ukuran panjang, lebar dan dalamnya lubang.


Sumber : http://ilmusawit.com/?p=25 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar